Kawasan Konservasi Hutan Jawa Bali

Di Pulau Jawa dan Bali terdapat 124 kawasan konservasi, yang sebagian besar di antaranya berukuran sangat kecil.  Namun demikian, sebagian besar hutan di daerah pegunungan cukup terlindungi karena berada dalam jaringan kawasan konservasi.  Kawasan yang sangat penting antara lain Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (15.000 ha) dan TN. Gunung Halimun (40.000 ha) di Jawa Barat.  Hutan dataran rendah hampir tak tersisa lagi, tetapi telah terlindungi di dalam kawasan TN. Ujung Kulon (122.956 ha) yang terletak di ujung Barat Pulau Jawa.  TN. Alas Purwo (43.427 ha) di ujung Timur, dan TN. Meru-Betiri (58.000 ha) di Tenggara.  TN. Baluran (25.000 ha) yang mencakup satu-satunya lahan musim di Pulau Jawa dan TN. Bali Barat (77.727 ha) yang melindungi populasi terakhir Jalak Bali, merupakan dua kawasan konservasi lainnya yang juga penting.

Hutan dataran rendah dalam kondisi baik masih dapat dijumpai di G. Dieng dan G. Perahu, jajaran Pegunungan Pembarisan dan G. Slamet (usulan kawasan cagar alam) di Propinsi Jawa Tengah (S. Van Balen danV. Nijman in litt., 1995).  Daerah-daerah tersebut layak ditetapkan sebagai kawasan konservasi yang akan mengurangi kesenjangan jaringan kawasan konservasi di Pulau Jawa.

Iklim di Pulau Jawa yang sangat kontras memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap susunan vegetasi di pulau ini.  Curah hujan yang tinggi sepanjang tahun di bagian Barat Jawa, kecuali daerah pesisir Utara, telah mendorong terbentuknya hutan hujan tropika yang rapat.  Curah hujan musiman di Bali dan bagian Timur Pulau Jawa telah mendorong terbentuknya vegetasi alami berupa hutan musim (gugur daun) (FAO, 1982d).  Sebagian besar vegetasi alami di Jawa dan Bali telah mengalami penyusutan hingga mencapai 90% (MoF, 1990; IUCN, 1991), dan hutan-hutan primer saat ini terbatas dijumpai di daerah pegunungan dan di beberapa tempat di daerah dataran rendah.

Sebagian besar species burung sebaran-terbatas di DBE ini hidup di hutan hujan pegunungan di atas 1.000 m dpl.  Beberapa lainnya dijumpai di hutan dataran rendah dan kaki-kaki gunung, sementara beberapa species lainnya termasuk Elang Jawa, Jalak Bali, dan Ciung-air Jawa (Macronous flavicollis), juga menjelajah hingga ke daerah-daerah yang lebih rendah (sejajar permukaan laut).

 

Habitat Burung  di Kawasan Terbatas Konservasi Hutan Jawa Bali :

  • Nisaetus bartelsi Elang jawa
  • Arborophila hyperythra Puyuh-gonggong Kalimantan
  • Treron oxyurus Punai salung
  • Ptilinopus porphyreus Walik kepala-ungu
  • Ducula lacernulata Pergam punggung-hitam
  • Otus angelinae Celepuk jawa
  • Caprimulgus pulchellus Cabak gunung
  • Hydrochous gigas Walet raksasa
  • Collocalia vulcanorum Walet gunung
  • Harpactes reinwardtii Luntur jawa
  • Megalaima corvina Takur bututut
  • Megalaima armillaris Takur tohtor
  • Pericrocotus miniatus Sepah gunung
  • Pycnonotus bimaculatus Cucak gunung
  • Hypsipetes virescens Brinji gunung
  • Cinclidium diana Berkecet biru-tua
  • Enicurus velatus Meninting kecil
  • Cochoa azurea Ciung-mungkal jawa
  • Stachyris grammiceps Tepus dada-putih
  • Stachyris melanothorax Tepus pipi-perak
  • Macronous flavicollis Ciung-air Jawa
  • Garrulax rufifrons Poksai kuda
  • Alcippe pyrrhoptera Wergan jawa
  • Crocias albonotatus Burung matahari
  • Tesia superciliaris Tesia jawa
  • Seicercus grammiceps Cikrak muda
  • Rhipidura phoenicura Kipasan ekor-merah
  • Rhipidura euryura Kipasan bukit
  • Psaltria exilis Cerecet jawa
  • Aethopyga eximia Burung-madu gunung
  • Lophozosterops javanicus Opior jawa
  • Serinus estherae Kenari melayu
  • Leucopsar rothschildi Jalak bali

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s